COCONUT TREE

  • INSPIRASI
  • REVIEW
  • KARYA

Beberapa bulan lalu merupakan salah satu masa sulit untukku, di mana pada saat itu seseorang yang aku percayai, hargai dan sayangi layaknya saudara sendiri melakukan suatu perbuataan yang tak pernah terlintas sedikit pun terlintas dibenakku ia akan tega melakukannya.
Sakit memang, tapi aku mencoba belajar.
Mungkin aku terlalu mempercayai dan mengharapkannya sehingga Allah menegurku sebagai bentuk kasih sayangNya kepadaku.
Lewat kejadian itu Allah memintaku untuk tidak mendua, untuk berharap kepadaNya saja.
Dalam perenunganku, aku teringat sebuah kalimat yang diucapkan oleh Imam Syafi'i.

"Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan kepada kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap kepada selain Dia. Maka Allah menghalangi kamu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepadaNya."

Aku melepaskan rasa kecewaku dan menggantinya dengan rasa syukurku.
Betapa beruntungnya aku masih ditegur olehNya.
Betapa beruntungnya aku masih diberi masa untuk kembali berharap hanya padaNya.



17 Januari 2018
Bumi Andan Jejama.

Hari ini adalah hari kedua aku berada di rumah.
Alhamdulillah akhirnya pulang juga!
---------------------
Pagi ini selepas mandi aku kembali berlenyeh-lenyeh di kasur tercinta. Nikmat sekali, sudah lama rasanya aku dan kasur ini tidak berjumpa.
“Tidur lagi aja kali ya?” batinku
Belum sempat aku memejamkan mata tiba-tiba batinku kembali berkata “JANGAN!”.
Lalu setelah itu ingatanku melayang pada sebuah ekspektasi liburanku ini.
Sebelum pulang, aku berekspektasi ketika di rumah akan berupaya fokus memperbaiki diri untuk kehidupan kekal (seperti memperbaiki bacaan Al-Qur’an  dan membaca buku-buku islam yang telah ku persiapkan) yang jadwalnya sudah ku setting sedemikian rupa dalam angan haha.
Maklum saja, karena selama kuliah aku tidak maksimal melakukan semua itu, maka dari itu liburan ini aku harus memaksimalkannya.
Tapi adakalanya ekspektasiku itu tidak sesuai dengan kenyataan, nyatanya sudah dua hari ini jadwalku tidak sepenuhnya berjalan.
Ah, dasar diriku ini!
Saat kuliah aku tidak fokus dalam menggali ilmu agama karena tugas dan berbagai kegiatan yang sepertinya tak pernah selesai.
Bicaraku ini sudah seperti orang yang paling sibuk saja. Padahal tidak.
Ingatanku kembali melayang, kali ini pada sebuah kajian yang aku dengar lewat telepon genggam.
Dalam kajian itu, ada seseorang yang bertanya pada narasumber
“Kak, bagaimana caranya menghafal Al-Qur’an bagi seseorang yang bersekolah di sekolah negeri? Kita kan banyak tugas sekolah yang fokusnya bukan pada agama, beda dengan pesantren”
Lalu narasumber itu menjawab
“Sebenarnya, alasan itu bisa kita cari dimana pun, di kolong meja-pun bisa, alasan-alasan itu seolah-olah akan membenarkan diri kita agar tidak dekat dengan Al-Qur’an. Coba kita perhatikan, dari SD kita ingin menghafal Al-Qur’an namun tidak bisa terealisasikan dengan alasan sibuk sekolah –nanti saja saat liburan-- lalu saat liburan ketika hendak menghafal muncul lagi pemikiran –inikan liburan, enaknya jalan-jalan bukan menghafal Al-Qur’an—dan terus begitu hingga kita SMP, SMA, kuliah. Kerja pun sama saja, kita sibuk dengan pekerjaan. Lantas kita meninggal, lalu menyesal.”
Aku termenung sambil menghitung, ternyata sudah 13 tahun lebih aku duduk di bangku pendidikan formal. Aku terus menghitung, kira-kira sudah berapa lama aku menghabiskan waktu untuk mendekatkan diri pada Tuhan? Pada Al-Qur’an? Adakah 13 tahun? 12 tahun? 9 tahun? 6 tahun? 1 tahun? Atau jangan-jangan hanya sebatas hitungan bulan bahkan jam.
Tiba-tiba badanku seperti kemasukan energi yang sangat besar, aku bangun dan berkata “Ok, ini sudah selesai. Sekarang waktunya fokus dan laksanakan!”.

Bumi Andan Jejama, 14 Desember 2017.

Banyak orang bilang mencintai dalam diam itu menyakitkan.
Rindu kau simpan sendiri.
Cemburu kau tutup - tutupi.
Bahkan hanya untuk sekedar menyapa "hai" saja kau harus berpikir berulang kali.

Tapi...
Walaupun banyak orang bilang mencintai dalam diam itu menyakitkan..
Aku memilih jalan diam untuk mencintaimu.
Bukan aku ingin menyakiti diri dengan menyimpan segala perasaan ini sendiri di dalam hati.
Tapi bagiku, mendoakanmu di sepertiga malamku lebih berarti ketimbang aku harus menyatakan perasaan ini.

Sebagai seorang manusia sudah fitrahnya kita akan merasakan cinta. Lalu apa yang harusnya dilakukan kalau cinta datang tidak pada waktunya?
Walaupun sebenarnya, jika kita menarik waktu ke belakang dari dulu kita sudah merasakan cinta.
Cinta kepada Sang Pencipta, cinta kepada Rasulullah, cinta kepada orangtua, cinta kepada keluarga, teman dan sebagainya. Tapi pada kesempatan kali ini izinkan saya menggunakan kata cinta hanya untuk memaknai cinta kepada lawan jenis saja.

Cinta dalam diam, begitulah paragraf di atas menyampaikannya.
Sebuah paragraf yang aku tulis sendiri, lalu beberapa bulan berikutnya aku malu sendiri.
Malu.
Aku mengatakan cinta ini dalam diam, tapi diam-diam aku seringkali meng-stalk akun sosial medianya.
Malu.
Aku mengatakan cinta ini dalam diam, tapi aku tak merasa keberatan untuk menyebut namanya di sepertiga malam.
Malu.
Aku mengatakan cinta, tapi sebenarnya belum pantas aku mengatakannya. Belum waktunya aku memberikan hati ini pada seseorang.
Seharusnya dalam masa penantian aku memberikan sepenuh hatiku pada yang berhak.
Pada Tuhan, pada agama, pada orangtua, pada teman dan keluarga.
Seharusnya dalam masa penantian aku menyibukan diri bukan malah sibuk mengagumi.
Seharusnya aku menyadari bahwa cinta akan datang ketika kita 'berhenti' mencari dan memperbaiki diri.


Bandung, 5 Desember 2017.
Ditulis di sela-sela menumpuknya tugas pengganti UAS.





Aku dan keluarga pernah nyaris tenggelam di tengah lautan..

Di mana pada saat itu perahuku nyaris tumbang diserang oleh ombak dan air yang masuk tak beraturan..
Angin pun menyambut kami tidak dengan perlahan..
Alhasil, bendera perahu menyerah.
Ia terjatuh.
Hampir menimpa salah satu diantara kami semua.
Mesin perahu pun seakan tak mengerti keadaan..
Yak..
Dia mogok di tengah jalan..

Ketakutan mulai menyerang..

Kami tidak mau mati sekarang..
Dosa kami melebihi air yang berada di lautan..
Amalan kami belum cukup untuk mencapai surga yang Tuhan janjikan..

Tuhan.

Pada saat itu harapan kami hanya pada Tuhan.
Kami berdoa..
Memohon agar diselamatkan.

Kalau boleh aku katakan..

Mungkin kami adalah manusia - manusia yang keterlaluan..
Yang hanya mengingat Tuhan, hanya bila kami membutuhkan..
Yang hanya mengingat dosa, hanya bila kami merasa dekat dengan kematian..



"Maka apabila mereka naik kapal mereka mendoa kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; maka tatkala Allah menyelamatkan mereka sampai ke darat, tiba-tiba mereka (kembali) mempersekutukan (Allah)''.
 (Q.S Al-'Ankabut : 65).


Na'udzubillahimindzalik..

Bulan lalu, saya menghadiri sebuah acara perayaan ulang tahun salah satu stasiun radio di mana salah satu bintang tamunya ialah Teh Siti.

Dia bukan seorang artis atau pun pembisnis. Bukan pula motivator yang biasanya berkata bijak dan manis, ia adalah seorang gadis tunanetra yang kehilangan ibunya saat berusia 5 tahun dan ayahnya saat berusia 7 tahun. 

So, bisa dibayangkan betapa kehidupan begitu 'sadis' untuknya? Tunanetra dan menjadi yatim-piatu sejak kecil.
Apa ia marah? Apa ia kecewa? Apa ia benci kepada Allah dan terus menyalahkan 'YA ALLAH MENGAPA AKU BEGINI?' Tidak. Ia tidak marah. Yang ada dipikirannya malah ia ingin menjadi hafizh Qur'an dengan alasan yang sungguh luar biasa.
Ia bilang "Aku ingin melihat kedua orangtuaku nanti di surga dan menyematkan mahkota untuk mereka berdua"
Masha Allah, sungguh malu diriku. Bermata normal namun entah dipakai dipakai buat apa.




Pertama setelah bertahun-tahun nggak ngeblog.
Ini yang mau ditulis apa ya? Kok jadi kaku gini..
Subscribe to: Posts ( Atom )

ABOUT BLOG

Selamat Datang di Coconut tree!

Bytheway, kenapa sih nama blog ini Coconut tree?

....

Coconut tree. Pohon kelapa #Yakalisemuaorangjugatau. Ok jadi langsung aja ya, aku ambil nama Coconut tree karena berharap semoga blog ini bisa kaya pohon kelapa yang dari 'ujung ke ujung' punya banyak manfaat. Well, semoga harapanku terhadap blog ini dapat terwujud yaa dan semoga kalian juga bisa enjoy membaca semua post yang ada disini.

Akhir kata, terima kasih telah membaca blog ini^^

FOLLOW ME!

THANK YOU!

Paling Sering Dibaca

  • Aku Nyaris Tenggelam di Tengah Lautan
    Aku dan keluarga pernah nyaris tenggelam di tengah lautan.. Di mana pada saat itu perahuku nyaris tumbang diserang oleh ombak dan a...
  • "Cinta" tapi Bukan Cinta.
    Banyak orang bilang mencintai dalam diam itu menyakitkan. Rindu kau simpan sendiri. Cemburu kau tutup - tutupi. Bahkan hanya untuk sek...
  • EKSPEKTASI LIBURAN
    Hari ini adalah hari kedua aku berada di rumah. Alhamdulillah akhirnya pulang juga! --------------------- Pagi ini selepas mandi a...
Powered by Blogger.
Copyright 2014 COCONUT TREE.
Designed by OddThemes